BIM untuk Bumi yang Lebih Baik

Ragesti Rizky Susanto Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang

Di tengah krisis iklim global, industri konstruksi dituntut untuk bertransformasi. Perubahan dari penggunaan teknologi konvensional menuju teknologi modern yang ramah lingkungan menjadi suatu keharusan. Jika pembangunan terus dilakukan dengan pendekatan konvensional dalam jangka panjang, hal ini akan berkontribusi besar terhadap peningkatan emisi gas karbon di atmosfer. Kelebihan emisi karbon di udara dapat mempercepat terjadinya perubahan iklim yang berbahaya bagi kehidupan di bumi.

Industri konstruksi merupakan salah satu penyumbang emisi karbon yang signifikan serta menghasilkan limbah dalam jumlah besar. Sebagai contoh, alat pengaduk semen atau concrete mixer membutuhkan bahan bakar bensin untuk beroperasi. Ketika volume beton yang dibutuhkan cukup besar, maka distribusinya juga memerlukan truk pengangkut beton (mixer truck) yang menggunakan bahan bakar fosil, sehingga menambah polusi udara. Selain itu, proses produksi semen juga tergolong tidak ramah lingkungan karena menghasilkan emisi debu, CO₂, NO₂, SO₂, serta partikel berbahaya lainnya.

Oleh karena itu, dibutuhkan inovasi dalam dunia konstruksi untuk menciptakan bangunan ramah lingkungan atau menerapkan prinsip konstruksi hijau (green construction). Transformasi menuju konstruksi hijau tidak akan efektif tanpa dukungan teknologi seperti Building Information Modeling (BIM). BIM bukan sekadar alat digital untuk membuat model bangunan tiga dimensi, melainkan sebuah sistem terintegrasi yang memungkinkan perencanaan, pembangunan, dan pengelolaan infrastruktur secara lebih cerdas, efisien, dan berkelanjutan. Dengan integrasi data spasial, waktu, biaya, hingga analisis keberlanjutan, BIM membuka jalan menuju praktik konstruksi yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masa depan bumi.

BIM atau Building Inforrmation Modelling merupakan suatu proses berbasis teknologi digital yang digunakan dalam perencanaan, perancangan, konstruksi, dan pengelolaan bangunan atau infrastruktur yang terintegrasi antara satu dimensi ke dimensi lainnya. Dalam BIM terdapat beberapa dimensi antara lain : 

  1. 3D ( Tiga Dimensi) – Representasi Geometrik 
  2. 4D – Waktu (Schedule) 
  3. 5D – Biaya ( Cost Estimation) 
  4. 6D – Keberlanjutan (Sustainability) 
  5. 7D – Manajemen Fasilitas (Facility Management) 
  6. 8D – Keamanan atau K3 (Safety) 
  7. 9D – Lean Construction 
  8. 10 D – Prefabrikasi ( Industrialization) 

Dalam konteks konstruksi hijau peran dimensi BIM yang berperan adalah 6D yang berhubungan dengan keberlanjutan atau sustainability. Teknologi 6D dalam BIM memperhitungkan semua tahapan yang dilakukan dalam proses pembangunan dan memungkinkan memprediksi jumlah energi yang dibutuhkan secara akurat. Dalam hal ini, BIM mempunyai keunggulan dalam mengurangi limbah material dan kesalahan selama proses konstruksi. 

 Pendekatan teknologi ini memberikan gambaran  tentang total biaya bangunan dan membantu memutuskan alokasi Rancangan Anggaran Biaya (RAB) sehingga bangunan tersebut  berkelanjutan dan efisien. Dalam tahap perencanaan, perhitungan 6D menjadi  bagian penting karena merupakan metode untuk mengumpulkan informasi terperinci tentang berbagai komponen konstruksi. Informasi ini mencakup siapa produsen komponen tersebut, kapan komponen dipasang, jadwal pemeliharaan, bagaimana penempatan komponen tersebut diatur, kebutuhan energinya, hingga rincian tentang proses pembongkaran di masa depan. 

Selain itu, BIM dapat menghitung volume material secara akurat berdasarkan model yang telah dirancang. Hal ini membantu mencegah pemesanan material yang berlebihan maupun kekurangan, sehingga mengurangi pemborosan sumber daya, waktu, dan biaya. Dengan demikian, BIM menjadi solusi yang tepat untuk menciptakan proses konstruksi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.Teknologi ini membantu menghemat energi dalam jangka panjang melalui efisiensi laba sehingga pembuatan keputusan menjadi lebih cepat  dan lebih akurat dalam proses perencanaan. 

Melalui sistem koordinasi digital BIM memungkinkan seluruh pihak yang terlibat dalam suatu proses konstruksi seperti insinyur, arsitek, dan kontraktor untuk bekerja pada suatu model terintegrasi. Fitur clash detection dalam BIM efektif untuk mendeteksi tumpang tindih desain, seperti antara struktur bangunan dan instalasi MEP (Mechanical, Electrical, and Plumbung), sehingga tantangan serta permasalahan dapat diselesaikan sebelum pekerjaan dimulai di lapangan.

Share this Article

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Halo 👋
Ada yang dapat kami bantu?