Media Sosial Bikin Dekat, Tapi Juga Bisa Bikin Jauh

Gusti Agung Ayu Raehita Prabandari Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang

Tak bisa dimungkiri bahwa kemajuan teknologi informasi telah mengubah wajah kehidupan manusia secara drastis. Salah satu perkembangan yang paling terasa dampaknya adalah kehadiran media sosial. Platform seperti WhatsApp, Instagram, Facebook, TikTok, hingga X (dulu Twitter) kini telah menjadi bagian dari rutinitas harian sebagian besar masyarakat dunia. Dengan media sosial, segala bentuk komunikasi, informasi, dan hiburan dapat diakses dalam hitungan detik, kapan pun dan di mana pun.

      Media sosial hadir dengan misi menyatukan manusia tanpa batasan ruang dan waktu. Ia menawarkan kemudahan untuk bertukar kabar, membangun jejaring, hingga menjaga hubungan yang sebelumnya nyaris tak mungkin dijalin. Di permukaan, media sosial memang membawa manusia menjadi lebih dekat satu sama lain. Namun di balik segala kemudahan itu, terdapat ironi yang cukup menyedihkan: media sosial yang seharusnya mendekatkan, justru bisa menjauhkan.

    Beberapa dampak dari media sosial kedekatan yang semu yaitu pertama hadir di layar, absen di dunia nyata. Kita bisa mengirim pesan, menyukai unggahan, atau memberikan komentar hanya dalam beberapa detik. Tetapi, apakah semua itu benar-benar mewakili interaksi yang bermakna? Banyak orang merasa telah “terhubung” dengan teman atau keluarganya hanya karena melihat unggahan terbaru mereka. Padahal, tanpa percakapan yang tulus, tatap muka, dan empati yang nyata, hubungan tersebut hanyalah hubungan semu. Tak jarang kita melihat sekelompok teman duduk satu meja di kafe, tetapi masing-masing sibuk dengan gawainya. Ironisnya, mereka mungkin sedang membalas pesan dari orang lain, bahkan mungkin orang yang duduk di sebelahnya. Kedekatan fisik yang seharusnya menjadi momen interaksi justru digantikan oleh kesibukan di dunia maya. Yang kedua kecenderungan membandingkan diri dan membentuk citra palsu. Media sosial menciptakan ruang untuk membangun “persona ideal”. Banyak orang memilih hanya menampilkan sisi terbaik dari hidup mereka—liburan mewah, pencapaian pribadi, atau momen bahagia. Hal ini bisa memicu orang lain merasa kurang, tidak cukup sukses, bahkan tidak bahagia dengan hidupnya sendiri. Fenomena ini sering disebut sebagai “media sosial envy” atau kecemburuan digital. Rasa tidak puas dan minder yang muncul akibat membandingkan hidup kita dengan unggahan orang lain bisa membuat seseorang menarik diri, merasa terasing, dan menjauh dari relasi sosial yang sebenarnya bisa memberi dukungan emosional. Yang ketiga konflik dan kesalahpahaman karena komunikasi dangkal. Komunikasi lewat media sosial sering kali minim konteks. Tanpa nada suara, ekspresi wajah, dan gestur tubuh, sebuah pesan bisa ditafsirkan berbeda-beda. Banyak hubungan rusak karena pesan singkat disalahartikan, atau komentar yang ditulis tanpa niat buruk justru menimbulkan sakit hati. Selain itu, media sosial membuka ruang untuk pengawasan berlebihan terhadap aktivitas orang lain. Misalnya, pasangan yang cemburu karena melihat siapa yang menyukai foto kekasihnya, atau teman yang kecewa karena merasa diabaikan padahal melihat kita aktif di media sosial. Situasi seperti ini menambah tekanan sosial yang bisa merenggangkan hubungan, bukan mempereratnya.

    Adapun contoh studi kasus yang diambil yang pertama, sebuah studi dari Pew Research Center tahun 2023 mengungkap bahwa meskipun 72% responden merasa “terhubung” dengan banyak orang berkat media sosial, lebih dari 55% dari mereka juga mengaku sering merasa kesepian, tidak dihargai, atau kehilangan koneksi emosional dengan orang-orang terdekat. Yang kedua, meningkatnya kasus perceraian dan konflik pasangan yang dipicu oleh kesalahpahaman atau kecanduan salah satu pihak terhadap media sosial. Banyak pasangan merasa lebih nyaman berbicara dengan orang asing di media sosial daripada berkomunikasi langsung dengan pasangan sah mereka. Akibatnya, hubungan kehilangan keintiman dan kepercayaan.

     Media sosial, pada dasarnya, adalah alat. Ia bisa menjadi jembatan yang memperkuat hubungan, tetapi juga bisa menjadi tembok yang menghalangi kedekatan emosional jika digunakan secara berlebihan dan tanpa kontrol.

     Kita perlu kembali menyadari bahwa hubungan manusia tidak hanya butuh koneksi digital, tetapi juga koneksi hati. Interaksi yang hangat, tatap muka yang tulus, serta waktu berkualitas bersama adalah hal-hal yang tidak bisa digantikan oleh notifikasi dan pesan singkat. Saya berpendapat bahwa media sosial memang memiliki kekuatan untuk membuat kita merasa lebih dekat secara fisik dan informasi, tetapi jika disalahgunakan atau digunakan secara tidak bijak, media sosial dapat menumbuhkan jarak secara emosional, sosial, bahkan psikologis antarindividu.

     Saya mengajak kita semua untuk menggunakan media sosial secara lebih sadar dan bijak. Jadikan ia alat untuk mempererat tali silaturahmi, bukan menggantikannya. Luangkan waktu untuk benar-benar hadir bersama orang-orang di sekitar kita. Karena pada akhirnya, hubungan yang sejati tidak dibangun oleh “likes” dan “followers”, tetapi oleh perhatian, kehadiran, dan kepedulian nyata.

Share this Article

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Halo 👋
Ada yang dapat kami bantu?