Membangun Kota untuk Semua, Bukan untuk Mobil Saja

Muhamad Addin Prasetyo Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang

Setiap hari kita menghadapi kemacetan di Jakarta. Waktu terbuang di jalan, udara dipenuhi polusi, dan bunyi klakson menjadi musik latar kehidupan kota. Tapi, di balik semua itu, pernahkah kita bertanya: kota ini sebenarnya dibangun untuk siapa?

Jawabannya mungkin mengejutkan: Jakarta lebih banyak dibangun untuk mobil, bukan untuk manusia. Jalan terus diperlebar, jalan layang dibangun, tempat parkir ditambah. Tapi anehnya, kemacetan tidak pernah benar-benar hilang. Justru makin parah dari tahun ke tahun.

Sementara itu, nasib pejalan kaki dan pengguna transportasi umum sering kali diabaikan. Trotoar sempit dan terhalang tiang atau pedagang kaki lima, halte bus jauh dari pemukiman, jalur sepeda kadang sekadar cat di aspal yang dilintasi motor. Belum lagi penyandang disabilitas yang kesulitan naik TransJakarta karena tidak semua halte punya lift atau jalur landai.

Padahal, tidak semua warga Jakarta punya mobil. Data dari BPS DKI Jakarta menunjukkan bahwa sebagian besar rumah tangga masih bergantung pada transportasi umum atau sepeda motor untuk mobilitas sehari-hari. Lalu, kenapa ruang kota justru lebih banyak diberikan untuk mobil?

Kota yang sehat dan layak huni bukan diukur dari berapa banyak jalan tol atau flyover yang dibangun. Kota yang baik adalah kota yang bisa dinikmati semua orang: anak-anak, lansia, pekerja harian, penyandang disabilitas — baik yang punya kendaraan maupun tidak.

Jakarta sebenarnya sudah mulai bergerak ke arah yang lebih baik. Kita sudah punya sistem transportasi umum yang terintegrasi lewat JakLingko, MRT, LRT, dan TransJakarta. Trotoar di beberapa kawasan seperti Sudirman–Thamrin juga mulai ditata lebih baik dan ramah pejalan kaki. Tapi itu belum cukup.

Pembangunan kota harus melihat siapa yang paling membutuhkan ruang dan akses. Pejalan kaki adalah kelompok terbanyak di Jakarta, tapi justru paling sedikit diberi ruang. Sepeda adalah moda ramah lingkungan, tapi jalurnya belum aman. Penyandang disabilitas butuh kemudahan, tapi fasilitas masih terbatas. Kota yang adil seharusnya memberi ruang dan perhatian lebih pada mereka, bukan malah menyingkirkan.

Jika kita terus membangun Jakarta hanya untuk mobil, maka kota ini akan semakin tidak ramah bagi manusia. Semakin banyak jalan bukan berarti makin lancar — justru makin padat. Kota yang manusiawi adalah kota yang mendorong warganya untuk berjalan kaki, naik sepeda, dan menggunakan transportasi umum.

Untuk itu, pemerintah perlu berani mengambil langkah tegas: membatasi penggunaan kendaraan pribadi, memperluas dan menyambungkan trotoar, memperbanyak jalur sepeda yang aman, serta meningkatkan kenyamanan dan aksesibilitas transportasi umum untuk semua kalangan.

Dan kita, sebagai warga, juga perlu berubah cara berpikir. Mulailah dengan mendukung transportasi umum, berjalan kaki untuk jarak dekat, atau naik sepeda jika memungkinkan. Semakin kita bergerak bersama, semakin besar peluang perubahan.


            Kota yang baik bukan kota yang bisa dilewati mobil dengan cepat. Kota yang baik adalah kota yang membuat warganya merasa nyaman dan aman untuk bergerak, beraktivitas, dan berinteraksi.

Jakarta tidak harus menjadi kota yang keras dan melelahkan. Jakarta bisa menjadi kota yang ramah, adil, dan layak huni untuk semua. Tapi itu hanya bisa terjadi jika kita berhenti membangun kota untuk mobil, dan mulai membangun kota untuk manusia.

Share this Article

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Halo 👋
Ada yang dapat kami bantu?