BELAJAR DARI SINGAPURA, MTS MUHAMMADIYAH 1 MALANG SIAPKAN GENERASI BERWAWASAN GLOBAL

Singapura, 24 Agustus 2026 — Tiga siswa MTs Muhammadiyah 1 Malang bersama rombongan dari FOSKAM (Forum Silaturahmi Kepala Sekolah dan Madrasah, Dikdasmen Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Malang yang diikuti 21 sekolah melakukan kunjungan ke Sekolah Indonesia Singapura (SIS) yang beralamat di 20A Singlap Road, Singapura, Senin (24/8/2026).

Kunjungan tersebut merupakan salah satu rangkaian kegiatan MAGIC (Muhammadiyah Global Immersion and Collaboration) 2026, yang dirancang sebagai sarana silaturahmi, pertukaran pengalaman, sekaligus pembelajaran bagi sekolah-sekolah Muhammadiyah Kota Malang melalui praktik pendidikan di luar negeri.

Rombongan disambut langsung oleh Kepala Sekolah Indonesia Singapura, Samuel Kuriake Balubun, yang berasal dari Maluku. Dalam sambutannya, Samuel menyampaikan apresiasi atas kunjungan rombongan sekolah Muhammadiyah Kota Malang.

Menurutnya, Sekolah Indonesia Singapura cukup sering menerima kunjungan dari sekolah-sekolah di Indonesia yang ingin melihat secara langsung bagaimana pendidikan Indonesia diselenggarakan di tengah lingkungan masyarakat Singapura yang dikenal memiliki budaya disiplin dan regulasi yang ketat.

“Sekolah Indonesia Singapura juga memiliki tantangan tersendiri karena harus menyesuaikan regulasi pendidikan Indonesia dengan ketentuan yang berlaku di Singapura,” jelas Samuel.

Belajar Penguatan Literasi melalui Assessment

Salah satu hal menarik yang diperkenalkan kepada peserta MAGIC adalah praktik assessment yang digunakan untuk memperkuat kemampuan literasi siswa.

Peserta mendapatkan pengalaman mengikuti dua bentuk assessment. Pertama, assessment kecepatan membaca, dengan menggunakan teks naratif yang dibaca dalam waktu satu menit. Jumlah kata yang mampu dibaca kemudian menjadi salah satu indikator untuk melihat kemampuan membaca peserta.

Kedua, peserta diperkenalkan pada assessment yang menekankan kemampuan memahami konteks dan instruksi soal secara menyeluruh. Peserta diajak untuk tidak terburu-buru mengerjakan soal satu per satu, tetapi terlebih dahulu memahami keseluruhan perintah yang diberikan sebelum menentukan jawaban.

Praktik tersebut menjadi pembelajaran penting bahwa penguatan literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca teks, tetapi juga kemampuan memahami informasi, instruksi, dan konteks secara utuh.

Perhatian pada Gizi dan Kesehatan Mental Siswa

Selain literasi, Sekolah Indonesia Singapura juga memperkenalkan bagaimana sekolah melakukan analisis terhadap kebutuhan dan perkembangan gizi peserta didik.

Samuel menjelaskan bahwa pemantauan kondisi gizi anak dapat dilakukan dengan memanfaatkan analisis maupun aplikasi tertentu sehingga sekolah memiliki data yang lebih baik mengenai perkembangan kesehatan siswa.

Hal tersebut kemudian menjadi dasar dalam membangun pola hidup sehat dan pemenuhan kebutuhan makanan bergizi bagi peserta didik. Aspek kesehatan mental anak juga menjadi bagian dari perhatian sekolah dalam mendampingi perkembangan siswa secara menyeluruh.

Praktik ini memberikan perspektif bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari bagaimana sekolah memastikan peserta didik tumbuh secara sehat, baik secara fisik maupun mental.

Pendidikan untuk Anak Indonesia di Luar Negeri

Kepala MTs Muhammadiyah 1 Malang, Truli Maulida W, menilai kunjungan tersebut memberikan perspektif penting mengenai peran Sekolah Indonesia Singapura dalam memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak Indonesia yang berada di luar negeri.

“Sekolah Indonesia Singapura menjadi salah satu bentuk solusi untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak Indonesia yang berada di Singapura. Mereka tetap membutuhkan layanan pendidikan agar perkembangan kompetensi dan keahliannya sesuai dengan usia mereka,” tuturnya.

Menurut Truli, pengalaman tersebut dapat menjadi inspirasi bagi sekolah di Indonesia untuk terus mencari model pendidikan yang mampu memberikan pendampingan secara utuh kepada peserta didik.

Dengan demikian, ketika anak-anak tersebut kembali ke Indonesia, mereka tidak mengalami kesenjangan dalam mengikuti proses pendidikan dan bahkan memiliki kompetensi yang dapat berkembang lebih jauh.

Pendidikan di Indonesia Harus Berani Berbenah

Sementara itu, Sa’adih Sidiq, pengawas madrasah, menyampaikan bahwa kegiatan MAGIC 2026 memberikan pengalaman dan inspirasi bagi madrasah yang mengikuti program tersebut.

Menurutnya, kunjungan ini menunjukkan bahwa sekolah Indonesia di luar negeri juga memiliki perjuangan dan tantangan tersendiri dalam mencerdaskan anak bangsa.

“Kalau sekolah Indonesia di luar negeri saja memiliki perjuangan yang luar biasa, maka kita yang berada di dalam negeri seharusnya memiliki semangat yang sama. Kita lebih dekat dengan pemerintah daerah, lebih mudah dari sisi bahasa dan lingkungan. Karena itu, pendidikan seharusnya dapat berjalan lebih mudah,” ungkapnya.

Ia menekankan pentingnya amanah bagi seluruh pengelola pendidikan dalam menjalankan tanggung jawab yang diberikan.

Berhadapan dengan Dua Regulasi

Samuel juga menjelaskan bahwa dalam menjalankan pendidikan, Sekolah Indonesia Singapura menghadapi tantangan karena harus berhadapan dengan dua kerangka regulasi, yaitu regulasi pendidikan Indonesia dan aturan pendidikan yang berlaku di Singapura.

Menurutnya, regulasi pendidikan di Singapura cukup ketat sehingga sekolah harus mampu menemukan titik temu antara ketentuan yang berlaku di Singapura dengan standar pendidikan Indonesia.

Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah, terutama dalam menghadapi tuntutan orang tua dan kebutuhan peserta didik.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan pendidikan membutuhkan kemampuan adaptasi, kreativitas, sekaligus kecermatan dalam menerjemahkan regulasi ke dalam praktik pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan siswa.

Membawa Pulang Praktik Baik untuk Kota Malang

Kunjungan ke Sekolah Indonesia Singapura menjadi bagian penting dari semangat utama MAGIC 2026: belajar dari dunia, kemudian membawa pulang praktik baik untuk dikembangkan di lingkungan pendidikan Muhammadiyah Kota Malang.

Berbagai praktik yang diperkenalkan, mulai dari penguatan literasi, assessment, pemantauan gizi, kesehatan mental, hingga tata kelola pendidikan, menjadi bahan refleksi yang dapat dipelajari dan disesuaikan dengan konteks sekolah dan madrasah di Kota Malang.

Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada pengalaman kunjungan semata. Lebih jauh, MAGIC 2026 menjadi ruang untuk membuka wawasan, membangun jejaring internasional, serta mendorong sekolah-sekolah Muhammadiyah agar terus melakukan inovasi.

Dengan semangat global immersion and collaboration, pengalaman dari Sekolah Indonesia Singapura diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi madrasah Muhammadiyah Kota Malang untuk terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan, sehingga mampu melahirkan generasi yang religius, humanis, berkemajuan, sekaligus memiliki daya saing global.

Share this Article

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Halo 👋
Ada yang dapat kami bantu?